The Tree of Life (2011)
dir: Terrence Malick

“The Tree of Life” dimulai perlahan untuk lantas menyeruak penuh ambisi. Sangat jarang kita bisa menemukan suguhan sinema yang terasa begitu penting belakangan ini, bukan hanya untuk disaksikan, namun juga untuk dipikirkan dan dirasakan. Film lain yang pernah saya tonton dan memiliki visi serta ambisi yang serupa mungkin hanya “2001: A Space Odyssey” (1968), mahakarya dari Stanley Kubrick. Jika bagi sebagian orang Kubrick terasa bagai ‘mesin’, maka Terrence Malick akan terasa begitu manusiawi dan nyata.

Lewat film ini kita diajak menyelami kenangan masa kecil Jack O’Brien. Dan seperti juga proses mengingat itu sendiri, kita melompat-lompat liar memungut serpihan ingatan yang berceceran; tentang ayah yang keras dan keinginan untuk berontak, tentang musim panas dan ibu yang mengawasi dibalik jendela, tentang teras kayu dan pertengkaran orang tua yang terdengar samar. Kepingan memori yang bermunculan terasa amat jelas walau terkadang hanya terbersit lewat fragmen-fragmen kecil.

Di satu momen kita juga dilempar begitu jauh untuk lantas mendapati diri menyaksikan kreasi terbentuknya alam semesta. Kelahiran jagat raya beserta segala isinya dan setiap fasenya. Proses evolusi yang akhirnya menjadikan kita semua manusia. Jack tumbuh untuk melihat hidup datang dan pergi, untuk menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri berevolusi. Dan seakan tak cukup hanya merekam kehidupan, Malick menggiring kita menuju tanah kosong, dimana Jack bertemu kembali dengan keluarganya.

Kebanyakan film yang muncul belakangan ini seakan mengucilkan penontonnya. Memanjakan sekaligus merendahkan akal penikmatnya. Hilang sudah nilai kehidupan dalam medium sinema, digantikan dengan sensasi ringan nan kosong. Tentu saja itu bukan hal yang sepenuhnya salah, toh sinema pada hakikatnya memang sekedar sarana hiburan. Tapi ada beberapa sutradara yang menolak itu semua, dan Terrence Malick adalah salah satunya. Malick menjadi satu dari sedikit sutradara yang terus menerus berusaha membuat mahakarya, bahkan sejak awal karirnya.

Gaya bertutur Malick yang khas ini diiringi dengan visual yang luar biasa indah lewat bantuan sinematografer Emmanuel Lubezki. Penggunaan lensa yang lebar dan nyaris tanpa cahaya buatan memberikan nuansa hangat yang membumi. Ini kolaborasi kedua antara Lubezki dan Malick, setelah sebelumnya menggarap “The New World” di tahun 2005. Hal lain yang menarik adalah munculnya nama Douglas Trumbull di bagian visual effect. Malick memboyong Trumbull yang dulu sempat mengerjakan visual effect untuk “2001: A Space Odyssey”.

Apa yang Malick lakukan dalam “The Tree of Life” adalah merekam potret sebuah keluarga, untuk lantas menjabarkan waktu dan ruang. Kelahiran, kehidupan dan kematian disuguhkan lewat kacamata spiritualitas Malick sendiri. Menonton “The Tree of Life” nyaris sama seperti berdoa, hanya saat berserah segalanya akan terasa.