Dari segi promosi, konser Architecture In Helsinki (AIH) di Jakarta sebenarnya sudah dilakukan 3 bulan sebelum kedatangannya. Namun, Fairground Jakarta di kawasan SCBD Area Jakarta yang menjadi venue perhelatan nya masih banyak menyisakan ruang, kapasitas yang seharusnya bisa memuat 3000 orang hanya terisi sekitar 900 orang saja. Sampai-sampai, acara pun sempat ditunda sekitar 45 menit untuk menunggu penonton yang datang terlambat. Tapi konser AIH malam itu tidak mengurangi tensi para penggemar fanatiknya untuk menikmati AIH sepanjang konser.

Pukul 20.45 penonton yang menunggu sambil duduk akhirnya berdiri dan merangsek ke arah stage untuk menyaksikan Bottlesmoker yang memang menjadi Opening Act malam itu, dibuka dengan Stringless Purslane. Berkostum Astronot (Angkuy) dan Kepala Suku Indian (Nobie) mengungkapkan, “Ini merupakan mimpi yang menjadi kenyataan, dulu tahun 2003 kita berdua pertama kali mendengarkan AIH dan kali ini kita satu panggung” ujar Nobie. Bottlesmoker tidak sendiri malam itu, mereka tampil dengan ditemani seniman asal Prancis, Sautel untuk menggambarkan visual live yang terlihat di dua screen yang dipasang disamping panggung. Tidak lupa hits mereka seperti Slo Mo Smile & Love Saturday. “Doakan tanggal 13 sampai 20 Maret nanti kita akan melakukan tur ke Vietnam dan Thailand” ujar Angkuy, yang kemudian ditutup dengan lagu Le Voyage.

Setelah menunggu satu jam akhirnya AIH pun naek ke atas panggung, Cameron Bird (Lead Vocals, guitar), Gus Franklin (Drum), Jamie Mildren (bass, Keyboard), Sam Perry (Guitar), Kellie Sutherland (Keyboard, Vocal) menyapa para penonton dengan Desert Island, satu karya yang menggabungkan electronic-pop dengan reggae. AIH sangat menghibur penonton, dalam lagu That Beep mereka berlima menampilkan koreograpi dan terkadang bertukar posisi untuk memainkan instrument musik yang berbeda.  Terbentuk sekitar tahun 1999 oleh Bird, Perry, & Mildren saat mereka mendapatkan studi di Melbourne, kemudian bertemu Kellie & Franklin pada tahun 2000 dan akhirnya mereka sepakat untuk bermusik dengan genre indie pop electronic.  Dengan mengandalkan sound 80-an, instrumen dari synthesizers dan sampler begitu dominan di album-album mereka. “This song is dedicated to people who loves games “ujar Bird ketika membawakan lagu Escapee yang dijadikan theme song Games FIFA Soccer 2012. AIH sendiri sangat produktif dalam menciptakan album, 4 album diantaranya Finger Crossed (2003), In Case We Die (2005), Place like this (2007), dan Moments Bends (2011) serta 1 album Remixed We Died, They Remixed (2006).  Lagu-lagu karya AIH lainnya yang dibawakan antara lain: Wishbone, May You Can Owe Me, Denial Style, W.O.W, YR. To Go, B4 3D, Everything Blue, Hold Music, selalu memancing penonton untuk ikut menari malam itu di Fairground.  “This is last song, Contact High”, ujar Bird yang selalu berkomunikasi dengan penonton malam itu.  Tidak lengkap kalau sebuah konser diakhiri tanpa encore. Lagu It’s 5 dan Heart it Races menjadi karya pamungkas AIH untuk menghibur para fans nya di Jakarta. “Thank you for coming, take care guys”, ujar Bird ketika menutup konser.

Walaupun tidak banyak penonton yang hadir pada malam itu, Architecture in Helsinki berhasil menghipnotis para penonton yang beruntung dapat menyaksikan konser mereka. You’re very entertaining Architecture in Helsinki!